Minggu, 01 Mei 2011

metode pengajaran nabi


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Sebagaiman yang kita ketahui bersama bahwa, dalam pengajaran atau mentransfer ilmu pengetahuan kepada seseorang bukan hanya sekedar memberikan atau menyamapikannya akan tetapi kita juga mengaharapkan apa yang kita sampaikan kepada orang itu dipahami oleh orang yang bersangkutan. Berbagai metode telah di kemukakan oleh pakar-pakar ilmu pendidikan agar dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik mudah di cerna.
            Begitu pula dengan Nabi sendiri, beliau juga menggunakan metode dalam menyampaikan dakwahnya. Berdakwah dengan mengajar tidak jauh beda. Karena sama-sama mentransfer ilmu pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain.
            Nabi sendiri melakukan metode yang telah di gariskan oleh Allah SWT. pada surah An-nahl ayat 125. Yang intinya mengatakan bahwa “Ajaklah menusia kepada jalan Allah dengan hikmat dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula”. Jadi dalam menyampaikan ddakwahnya Nabi pu punya metode. Bagaimana tidak, jika seandainya Nabi tidak menyampaikan dakwahnya secara baik dengan metode yang tepat, maka dakwahnya kan sulit diterima oleh kaumnya. Tapi karena cara yang ditempuh dalam menyampaikan dakwhnya tepat, maka orang arab pun dengan mudah mencerna apa yang di sampaikan oleh Nabi.
            Berikut akan diuraikan metode-metode nabi dalam menyampaikan dakwahnya kepada orang arab.
B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara Nabi mengajar kepada sahabatnya?
2.      Bagaimana cara Nabi mengajar kepada anak-anak?



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Cara Nabi Mengajar Kepada Sahabatnya
            Dalam mengajar dan berdakwah, Nabi s.a.w. mengikuti cara yang telah digariskan oleh Al-Quran dalam firman Allah s.w.t. :
            "Ajaklah menusia kepada jalan Allah dengan hikmat dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Mengetahui tentang siapa tersesat dari jalannya dan Dialah Yang lebih Mengetahui orang yang mendapat petunjuk" (An-Nahl:125)
            Ayat ini adalah gambaran yang lengkap tentang cara menyampaikan ajaran Allah kepada manusia yang berbeda sifat, tabiat dan pembawaannya. Ada manusia yang memang gandrung mencari kebenaran, ada pula golongan awam, disamping mereka yang menentang dan menolak, maka menghadapi kelompok-kelompok yang beraneka ragam, perlu diterapkan cara yang sesuai dan tepat, kerana itu Rasulullah s.a.w.
1.    Nabi melihat kondisi sahabat
                        Dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai terlebih dahulu tingkat kecerdasan dan daya tanggap orang, dan sebelum berbicara, melihat apa dan siapa yang ada dihadapan baginda, dan kepada tiap kelompok atau golongan, baginda s.a.w. menggunakan bahasa dan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami sebaik-baiknya, disamping peribadi yang berwibawa, sehingga segala ucapan baginda selalu berkenan di hati dan diterima pendengar dengan minat dan perhatian.
            Al-Qadhi Iyaadh rah. berkata : "Allah s.w.t telah meyelubungi segala yang diucapkan oleh Nabi s.a.w. dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah dan sedap didengar oleh telinga, oleh kerana itu tidak selalu diulang berkali-kali, sebab tiada sekalimat pun luput atau tergelincir, dan tidak pernah kekurangan dalih yang diperlukan".
2.    Nabi tetap menjaga agar sahabat saat belajar tidak merasa jemu dan capek
            Dalam memberikan bimbingan dan penerangan agama, baginda s.a.w. selalu menjaga agar rasa jemu dan capek tidak menyelinap masuk dalam hati para pendengarnya, mereka diberinya kesempatan beristirahat, agar hati mereka tetap terbuka menerima apa yang akan disampaikan, dan cara itu pula yang dewasa ini diakui sebagai cara yang efisyien oleh lembaga-lembaga pendidikan, cara yang telah diterapkan dahulu oleh Nabi kita yang amat bijaksana.
           
3.      Nabi menyesuaikan tingkat kecerdasan dengan kemampuan sahabat dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami

 عن عائشة رضي الله عنها قالت : مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَسْرُدُ سَرْدَكُمْ هَذَا وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنْ فَصْلٍ، يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيهِ (الترميذي 3572) قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح.

Dari Aishah, katanya :Tidaklah Baginda bercakap tergopoh-gapah seperti percakapan kamu akan tetapi Baginda berbicara dengan jelas dan teratur, sehingga orang yang duduk bersama Baginda ( didalami majlis) boleh mengingati (perkataan yang diungkapkan oleh
Demikian pula bila berbicara dengan orang lain, selalu disesuaikan pembicaraannya dengan tingkat kecerdasan, dan menggunakan bahasa yang mudah difahami, dan baginda berbicara dengan setiap orang yang datang dari berbagai puak kabilah, masing-masing dengan logat dan dialeknya, dan bila perlu mengulang perbicaraannya hingga tiga kali, untuk memperjelas dan lebih memantapkan sebagaimana sabda nabi:
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال :كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُعِيدُ الْكَلِمَةَ ثَلاَثًا لِتُعْقَلَ عَنْهُ

Dari Anas bin Malik beliau berkata :Rasulullah S.A.W sentiasa mengulangi satu perkataan yang diucapkannya sebanyak tiga kali agar mudah di fahami.
Dan bila melarang atau memerintahkan sesuatu tidak disampaikan sekaligus, tapi beransur-ansur sedikit demi sedikit agar tidak memberatkan.Maka berdasarkan keterangan dan uraian yang tersebut di atas, kiranya jelaslah, bahwa Nabi s.a.w. dalam mengajar dan berdakwah mempergunakan cara yang berbeda dan berlainan, Namun kesemuanya itu bertujuan untuk menyampaikan seruan Ilahi, dan demi menegakkan dan mewujudkan kehidupan yang sempurna di bawah naungan agama Allah.
            Berdasarkan dari penjelasan diatas, maka Rasulullah s.a.w. sebagai teladan tertinggi demikian para sahabatnya RA seharusnya diikuti jejaknya dan mencontohi amal usahanya kerana hanya dengan mengikuti ajaran nabi s.a.w. semata, rahmat kurnia Allah s.w.t. akan melimpah dan bercucuran baik dari langit maupun dari bumi.

B. Cara Nabi mengajar Anak-Anak
            Praktik pendidikan Nabi Muhammad SAW pada anak-anak dapat di gambarkan di bawah ini:

1. Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).” Mereka pun berlomba-lomba menuju ke beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.
2. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW supaya di doakan untuk dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia sampai selesai dahulu  kencingnya.” Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisikkan sesuatu kepada orang tuanya (anak kecil tersebut) supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
3. Ummu Kholid binti Kho'id bin Sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasulullah dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!

4. Ketika Nabi Muhammad SAW melewati rumah puterinya, iaitu Sayyidah Fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia. Ketika Rasulullah SAW sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir, lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut
5. Nabi Muhammad SAW sering bermain-main dengan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai terlebih dahulu tingkat kecerdasan dan daya tanggap orang, dan sebelum berbicara, melihat apa dan siapa yang ada dihadapan baginda, dan kepada tiap kelompok atau golongan, baginda s.a.w. menggunakan bahasa dan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami sebaik-baiknya, disamping peribadi yang berwibawa, sehingga segala ucapan baginda selalu berkenan di hati dan diterima pendengar dengan minat dan perhatian.
Al-Qadhi Iyaadh rah. berkata : "Allah s.w.t telah meyelubungi segala yang diucapkan oleh Nabi s.a.w. dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah dan sedap didengar oleh telinga, oleh kerana itu tidak selalu diulang berkali-kali, sebab tiada sekalimat pun luput atau tergelincir, dan tidak pernah kekurangan dalih yang diperlukan".
Berdasarkan dari penjelasan diatas, maka Rasulullah s.a.w. sebagai teladan tertinggi demikian para sahabatnya RA seharusnya diikuti jejaknya dan mencontohi amal usahanya kerana hanya dengan mengikuti ajaran nabi s.a.w. semata, rahmat kurnia Allah s.w.t. akan melimpah dan bercucuran baik dari langit maupun dari bumi.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, kami sadar bahwa dalam penyusunannya terdapat kesalahn dan kehilafan. Maka darinbya itu kritiakan dan saran dari pembaca sangat kami harapkan. Akhirnya hanya kepada Allah jualah kami memohon ampunan atas segala keslahan.










DAFTAR PUSTAKA


'Ajjaj Al Khattib, Dr. Muhammad. Ushul Al Hadist l, Darul Fiqr, Beirut Libanon

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar